Kata penyair WS Rendra, bencana dan keberuntungan sama saja. Hakekatnya demikian kalau kita bersedia membuka diri atas berbagai kemungkinan. Kita hanyalah debu di mata Yang Maha Kuasa.
So what?
Tentu sebagai orang beragama kondisi seperti ini menuntut kita untuk melepaskan akal sehat sejenak. Khususnya yang terkait dengan urusan kita sendiri, yang terdampak dari peristiwa di luar kita, faktor eksternal yang tidak mampu kita kendalikan. Menarik nafas dalam-dalam. Merenungkan. Memikirkan. Apa hikmahnya?
Seorang muslim diajar untuk memahami posisinya di depan Sang Pencipta. “Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu,”Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan) Insya Allah.” (Al Kahfi 23-24). Meskipun ada yang mengolok-olok, dengan kata Insya Allah itu orang bisa berdalih “ngeles” kalau ternyata tidak hadir di suatu acara. Ya nggak masalah karena semua orang memiliki cara hidup sendiri-sendiri, dengan segala konsekuensinya. ***
Kalau kita mengingat kembali peristiwa ke belakang, sebenarnya hal-hal yang di luar rencana pernah terjadi, dengan kondisi berbeda-beda.
Komentar