Seputar Publik / Opini

Kemenangan untuk Memulihkan Keberanian

Oleh: Tundra Meliala
Ir. Tundra Meliala MM., GRCE ,CPCC. Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia. Ir. Tundra Meliala MM., GRCE ,CPCC. Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia.

Kita menyaksikan pasangan muda yang menunda membeli rumah karena harga tak terjangkau. Mereka yang bekerja keras tetap merasa jauh dari rasa aman ekonomi. Sementara di sektor hukum, kepercayaan publik acap terguncang oleh kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan aparat penegak hukum sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan sikap apatis: bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa tak berdaya.

Di titik inilah, “kebal” menjadi kata kunci. Kebal bukan berarti kuat. Ia bisa berarti mati rasa.

Fenomena ini tampak dalam keseharian. Banyak orang memilih diam saat menghadapi ketidakadilan. Bukan karena setuju, tetapi karena lelah melawan sistem yang terasa tak berubah. Aspirasi publik seperti teredam oleh realitas bahwa suara individu jarang berdampak signifikan.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini sering disebut sebagai learned helplessness, ketika individu merasa upaya apa pun tidak akan mengubah keadaan, sehingga memilih berhenti mencoba. Dalam konteks Indonesia, gejala ini menemukan bentuknya dalam sikap “yang penting bertahan”.

Puasa, dalam situasi seperti ini, menemukan makna baru. Ia tidak lagi semata ritual spiritual, melainkan mekanisme bertahan hidup.

Tulis Komentar

Komentar